Di dunia peternakan, pemakaian probiotik sudah merupakan suatu kelaziman, kalau tidak kewajaran. Mungkinkah hal itu bisa diartikan bahwa peternak yang tidak memakaikan probiotik pada ternaknya itu tidak wajar. Tujuan beternak adalah mencari keuntungan, dari banyaknya hasil panen. Hasil panen yang berupa daging, susu, maupun telur bisa ditingkatkan kualitas maupun kuantitasnya dengan pemberian probiotik. Tinggal probiotik mana dan merk apa yang dipilih petani. Dalam ini adalah Ultra.
Bagi manusia, pemberian probiotik adalah makanan sehat. Sehat karena populasi mikroba menguntungkan yang cukup menekan jumlah jamur dan bakteri negatif. Probiotik juga sangat manjur untuk menurunkan kolesterol tubuh. Hal ini terjadi karena kolesterol dikonsumsi oleh mikroba sehingga menjadi tidak tersedia bagi usus manusia.
Tapi mengapa probiotik bagi ternak bisa menjadikannya gemuk? Gemuk sebab probiotik pada ternak bukan gemuk lemak, tapi gemuk daging. Gemuknya terjadi karena limbah/ kotoran ternak menjadi sedikit karena sari makanan terserap sempurna, kecuali kolesterolnya. Jadilah daging ayam pedaging yang memakai probiotik berwarna lebih putih seperti daging ayam kampung. Daging ikan juga sangat putih dan segar, seperti ikan muda/ kecil, karena kolesterolnya sedikit.
Gemuk bagi manusia karena probiotik? Mau gemuk sebenarnya tidak harus manusia/ ternaknya diberi probiotik. Cukup
diperbanyak saja porsi makannya. Tapi secara bisnis hal itu tidak
menguntungkan. Lebih menguntungkan memakai probiotik. Apalagi peternak sudah menganggarkan biaya pakan. Tak seperti manusia yang sering lupa pembatasan makan.
Tapi kalau anggaran pakan kita sudah maksimal, pemberian probiotik yang beranggaran amat kecil itu jauh lebih efektif bagi penggemukan ternak. Mengambil contoh produk Ultra, 500 ekor ayam pedaging sampai panen cuma menambah probiotik seharga Jawa 30 ribu, setara dengan 60 rupiah per ekor sampai panen. Hasil peningkatan berstatistik 1 ons per ekor, setara senilai 1.500-2.000 rupiah, jauh lebih besar dari 60 rupiah. Sesuatu, kan?