Hama yang unik, jalannya pelan, bentuknya lucu, makannya nggak kelihatan, pemalu, mudah ditangkap tapi sulit diberantas, adalah hama keong. Kebalikan dari hama tikus yang nangkapnya sulit, keong ini nangkapnya mudah. Permasalahannya adalah perkembangan keong yang sangat cepat. Seekor keong mampu bertelur ratusan butir dalam sekali bertelur. Jika anaknya tikus dibawah sepuluh, ini ratusan.
Sulitnya pemberantasan keong karena anak-anak keong sering terikut masuk aliran air ke dalam lahan petani. Padahal petani (padi) sering berebut aliran air yang sering berkeong ini. Penggunaan saringan air pada saluran masuk air sering disarankan, tapi mana ada petani mau menyaring airnya.
Petani juga sering disarankan membuat lubang-lubang jebakan keong. Setiap jarak 3 meter dibuatlah lubang-lubang yang diberi daun-daunan. Nanti keongnya yang masuk tinggal ditangkap. Tapi karena nangkap keong begitu mudah, mana ada petani mau repot menjebaknya.
Langkah terbaik adalah menangkap keong dewasa sebelum bertelur. Kalau terpaksa sudah bertelur ya dimusnahkan telurnya sekalian sebelum menetas. Kan telurnya bergumpalan menyatu seperti buah anggur sehingga mudah mengambilnya. Tapi sering petani tidak sempat, karena budaya prefentif belum mengakar. Rasa malas juga sangat dominan.
Jadilah cara terbaik bagi petani untuk memberantas keong adalah dengan memelihara bebek barang 10-20 ekor. Keong adalah makanan dengan gizi sangat tinggi untuk bebek, baik jantan atau betina. Jadilah tiap hari petani ke lahan membawa ember, sambil berdoa : moga-moga hari ini di lahan ada banyak keong.