Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Juli 2014

DUNIA PETERNAKAN YANG TERABAIKAN

Jangankan sektor peternakan, sektor pertanian saja tak mendapat perhatian. Padahal urusan pertanian adalah urusan pangan, sedangkan urusan pangan itu tak saja penting, tapi juga mendesak. Lalu bagaimana dengan sektor peternakan?

Kurang terurusnya sektor peternakan juga pertanian bukan terutama karena tak ada kemampuan, tapi karena kurangnya kemauan. Alasan untuk berjuang all out di sektor ini belum ditemukan. Mungkin karena negara lain sudah siap menyediakan stok pangan dan peternakan bagi Indonesia, atau mungkin saja belum menemukan benang merah esensi dari pentingnya kedaulatan pangan.

Kedaulatan pangan atau apapun sebenarnya  sesuatu yang sulit dipahami keuntungannya. Seharusnya yang dipikirkan adalah kesejahteraan bangsa dan anak bangsanya lewat kedaulatan pangan. Harusnya kitalah yang siap menyediakan pangan bagi dunia. Harusnya kitalah yang menerima uang,  bukan kehilangan uang pembelian bahan pangan.

Jadilah kedaulatan pangan itu berujung pada kesejahteraan, sedangkan kedaulatan protein pun tak kalah luar biasanya dalam berkontribusi pada kesejahteraan  suatu bangsa, lewat perhatian dan penanganan yang serius di dunia peternakan.


Rabu, 02 Juli 2014

UNSUR MIKRO

Tanpa pupuk unsur mikro, apakah tanaman bisa panen bagus? Jawabnya pasti bisa. Jangankan tanpa pupuk unsur mikro, tanpa unsur makro saja tanaman bisa panen bagus. Kok bisa?

Ya mungkin saja deposit unsur hara di tanah masih banyak. Misal lahan-lahan yang bekas ditanami tebu, jika ditanami ketela pasti tinggal menambah pupuk makro sedikit, bahkan berani tak pakai unsur makro.

Ya mungkin saja pemakaian komposnya banyak sekali, sehingga kadar unsur makronya lumayan, lalu kegemburan tanah akibat kompos bisa mensubstitusi kekurangsuburan karena nggak pakai unsur makro.

Ya mungkin saja lahannya lahan baru sehingga stok humus masih sangat banyak yang juga mampu menopang hasil panen.

Ya betul, tetapi pada akhirnya harus dipikirkan bagaimana cara menyediakan unsur makro bagi tanaman. Sedangkan cara yang paling masuk akal secara finansial adalah pemberian pupuk unsur makro.

Berarti juga perlu dipikirkan bagaimana cara menyediakan unsur mikronya.

Selasa, 01 Juli 2014

PUPUK TERBAIK

Pupuk terbaik itu yang mana, yang bagaimana? Ya jelasnya adalah yang memberikan hasil dan penghasilan terbaik bagi petani penggunanya. Penghasilan penggunanya meningkat dengan memakai pupuk tersebut.

Permasalahannya, selain tak ada yang meranking kualitas pupuk, petani pemakai juga tak mudah percaya pada segala macam promosi dan klaim dari perusahaan pupuk. Jadilah perusahaan dan petani sama-sama berjuang sendiri-sendiri, perusahaan berpromosi, petani tunggu bukti.

Bahkan seandainya diadakan perlombaan kualitas pupuk pun tetap tak akan banyak membantu, sebab peserta yang kalah akan mengatakan bahwa perlombaan tidak memenuhi syarat dsb. Apalagi dunia  pertanian sedang menjadi anak tiri dibanding sektor yang lain, misalnya dibanding sektor transportasi, pertambangan, properti, maupun telekomunikasi.

Jadi mungkin pupuk terbaik adalah yang sudah terbukti, dengan melihat data-data foto, video, maupun lapangan langsung. Tapi jangan-jangan bukti yang hanya sekali tidak cukup, karena bisa saja dianggap kebetulan. Bahkan ijin edar pupuk pun didasarkan pada pengujian yang hanya sekali.

Jadi pupuk yang terbukti baik adalah yang sudah lama beredar?

Selasa, 24 Juni 2014

TAK LAGI SUBUR

Ingat waktu jaman penjajahan dulu, negara-negara barat berebut dan antri menjajah untuk menjarah hasil bumi nusantara. Ratusan tahun nusantara terjajah, ratusan tahun negara barat menikmati hasil panen rakyat.

Lalu ketika Indonesia merdeka, sektor hasil bumi hampir tak dilirik lagi. Entahlah apa sebabnya, tapi Indonesia mengalami kemunduran dalam hal pengolahan hasil bumi. Hasil panenan tidak memuaskan, usaha di bidangnya tidak menjanjikan.

Lalu apakah itu sebabnya kita tak dijajah lagi? Tentunya bukan, walaupun mungkin hasil bumi Indonesia tak lagi menarik untuk dijarah. Sebab kalau benar-benar dijajah dan dijarah kita lalu makan apa, sedangkan untuk mencukupi kebutuhan rakyatnya sendiri saja masih belum cukup. Beras masih harus impor, daging susu juga impor, gula juga tak ketinggalan.

Ataukah mungkin inilah saatnya Indonesia gantian menjadi negara penjajah saja? Menjajah negara-negara yang subur untuk kita angkut hasil buminya?

Jadi harus bagaimana?


Minggu, 11 Mei 2014

FLUKTUASI HARGA

Naik turunnya harga komoditas pertanian adalah suatu hal yang lazim, bahkan pasti. Hal itu bukan saja disebabkan oleh posisi demand dan supply saja tetapi juga issue-issue bisnis, politik, bahkan kemasyarakatan. Mau hari raya, pedagang panik, kulak banyak,  harganya naik. Herannya hari raya tahun depannya harga malah turun. Katanya sebabnya kualitas jelek.

Maka dikatakan peramalan tentang harga produk menjadi lebih sulit daripada peramalan cuaca bahkan bisnis. Ataukah karena nggak ada yang serius dan fokus berkutat pada peramalan harga komoditi ini. Pelaku usaha pertanian disuruh meramal sendiri-sendiri, disuruh berstrategi sendiri-sendiri. Jadi mungkin strategi terbaik adalah timing, yaitu kapan waktu tanam, dengan harapan mendapatkan harga tinggi saat panen.

Ketika harga jatuh, semangat petani ikut jatuh. Jangankan untuk menanam, untuk memanen saja malas. Padahal katanya itulah saat yang tepat untuk mulai menanam. Jadi kalau harga belum jatuh petani belum mau nanam.

Penggunaan pupuk berkualitas dan benar secara jumlah dan jenislah strategi terbaik. Ketika harga turun memang ikut menangis, tetapi ketika harga naik tertawa lebih kencang. Jadilah rendahnya harga dikompensasi dengan tingginya hasil panen. Apalagi pada tanaman yang dipanen lebih dari sekali seperti terong, cabai, tomat, timun. Mengejar harga tinggi tak perlu dengan mengejar tanam lagi, cukup rawat tanaman dengan pupuk terbaik.

Rabu, 30 April 2014

HABIS GELAP TERBITLAH TERANG

Emansipasi wanita yang menemukan momentumnya diera kini, telah diinisiasi oleh pejuang-pejuang wanita, dalam hal ini RA. Kartini. Telah lazim dan terbuktikan bahwa dalam banyak hal, wanita mempunyai kemampuan dan peran yang setara dengan pria.

Ya memang secara fisik maupun tenaga, wanita lebih lemah daripada pria, tapi bukankah banyak pria yang kondisi fisik dan tenaganya lemah tetapi tetap menjadi seorang pemenang bahkan menjadi pembaharu bagi sesamanya. Ada jenderal Sudirman yang sakit saat mempimpin perang, ada Kolonel Sanders yang memulai KFCnya saat raganya merapuh,  ada Beethoven yang berkekurangan, dan masih banyak lagi, yang bahkan kondisi raga dan tenaga mereka tidak lebih kuat dari wanita.

Jadilah kita semua sudah tahu, bahwa untuk menjadi pemenang, bukan atau bukan hanya kondisi fisik yang harus kuat, justru spirit, juga berlaku di dunia agrobisnis. Pebisnisnya tak lagi harus terjun pegang cangkul, tak harus gali selokan, tak harus panggul karung. tak harus berfisik kuat, tapi harus berspirit hebat.

Menghebatnya semangat beragrobisnis tentunya karena melihat titik terang, yang berpotensi menjadi terang yang sesungguhnya. Sedangkan titik terang itu tak lain adalah panen berkelanjutan, panen yang makin lama makin banyak, bukan panen yang makin berkurang, selayaknya habis terangnya.

Dan pemakaian produk-produk organik dan ramah lingkungan menjadi inisiatornya.


Jumat, 04 Oktober 2013

PENGUSAHA PROPERTI VERSUS PETANI

Sepintas, petani dan pengusaha properti adalah pesaing, walau bukan bersaing dalam hal pemasaran. Persaingan keduanya dilihat dari persamaan kebutuhan bahan baku usahanya, tanah. Petani dan pengusaha properti sama-sama membutuhkan dan mencari lahan-lahan untuk bisa dibuat lahan usaha.

Tapi mungkin sebenarnya bukan persaingan yang terjadi, karena petani tak pernah menang jika harus berebut lahan dengan pengusaha properti. Maka supaya petani tidak kalah, dalam hal ini supaya lahan pertanian tidak serta merta berubah menjadi lahan properti, pemerintah membuat aturan-aturan khusus untuk melindungi lahan pertanian.

Padahal sebenarnya petani dan pengusaha properti sama-sama menyediakan kebutuhan pokok manusia, pangan-sandang dan papan. Jadilah nasib petani dan juga pengusaha properti menentukan nasib suatu bangsa. Karena itu mau tak mau negara tak boleh lengah dalam menanganinya.

Di beberapa daerah, apartemen lebih disuka daripada rumah permanen. Hal ini disebabkan mulai sulitnya mencari lahan properti, juga semakin mahalnya tanah-tanah untuk properti. Toh jika kita membangun/ membeli rumah permanen, selain harus membeli tanahnya kita juga harus membangun bangunan rumahnya. Sedangkan apartemen tak mengharuskan kita membeli tanahnya.

Itu adalah strategi jitu dalam dunia properti, yang baiknya spiritnya ditiru oleh pelaku usaha bidang pertanian, intensivikasi.

Senin, 30 September 2013

SWASEMBADA KEDELAI

Swasembada kedelai mungkin swasembada yang termasuk paling akhir yang akan kita capai, sebab kita lebih mudah untuk berswasembada di komoditas selain kedelai seperti padi, jagung, tebu, singkong dan lain-lain.

Tingginya tingkat kesulitan swasembada kedelai adalah terutama karena kekurangcocokan iklim kita untuk tanaman kedelai. sedangkan tanaman yang iklimnya cocok saja kita masih berjuang kearah swasembada. Ataukah kita menerapkan sistem antrian pada urutan komoditas yang akan kita swasembadakan? Tentunya tidak.

Swasembada kedelai merupakan perjuangan yang cukup berat bagi kita. Sudah iklimnya nggak cocok, eh kedelai yang sudah tertanam kurang diminati perajin tempe karena kedelainya kurang mengembang ketika dibuat tempe. Perajin tempe tetap memburu kedelai impor dengan alasan yang satu itu.

Jadi kita maklum jika kita tidak segera bisa berswasembada kedelai, budidaya sulit, pasar sulit, motivasi kurang. Sayangnya, selain belum berswasembada di kedelai, kita juga belum berswasembada di komoditi yang dimana kita punya keunggulan, yaitu komoditas beras, jagung, tebu, singkong, juga daging.

Kesimpulannya? Impor kedelai wajar, impor padi, gula dll?

Senin, 19 Agustus 2013

PANEN BERLIMPAH

Mau panen berlimpah, ada syaratnya.

Syarat pertama harus bisa panen dulu. Sebab untuk mencapai tahap panen itu tidak sederhana. Mulai dari  persiapan lahan, persiapan tenaga kerja, persiapan pengadaan sarana produksinya, pengurusan pada budidaya, pemeliharaan yang handal, termasuk pengurusan hama, baru memasuki tahap panen.

Tak sedikit petani yang tak sempat memasuki masa panen. Bukan nasib petaninya yang berakhir, tapi nasib lahan dan tanamannya. Bisa kena banjir hingga tanaman mati, bisa kekeringan sehingga tak bertunas, bisa kebanyakan pupuk daun sehingga daunnya menguning, bisa saja hama tak tertangani hingga tanaman tak berbentuk lagi, bisa saja salah memilih herbisida hingga tanaman induk ikut mati, atau karena faktor lain sehingga bertaninya berhenti di tengah jalan.

Setelah petani melewatkan tanamannya pada masa-masa perjuangan itu, barulah memasuki masa panen. Bisa panen sedikit sehingga masih rugi, bisa panen sedang-sedang saja sehingga impas dengan biayanya, bisa panen bagus sehingga mendapatkan keuntungan, bisa juga panen berlimpah hingga mendapatkan untung besar.

Sedangkan cara untuk mendapatkan panen berlimpah sebenarnya sangat sederhana. Kalau cuma ilmu dan cara saja bisa kita bertanya dan minta didampingi oleh orang yang berkompetensi. Toh amat jarang sekali kasus-kasus dalam bertani yang harus ditangani secara mendesak dan mendadak sehingga kita tak ada waktu sekedar untuk bertanya. Toh bertanya tentang apa dan bagaimana tak memerlukan waktu berhari-hari.

Tapi menjiwai dan bertani dengan hatilah yang menjadi kunci.

RACUN KIMIA

Racun kimia, pasti kita berpikir tentang pestisida kimia. Kapan kita akan terbebas dari pestisida kimia? Tak ada yang tahu. Sedangkan swasembada pangan dan pertanian yang kita canangkan saja kita tak tahu kapan tercapainya. Ini bebas pestisida kimia kan tidak kita canangkan. Jadi mungkin pecanangan bebas pestisida kimia kita lakukan setelah kita mencapai swasembada-swasembada yang kita canangkan. Kita sekarang baru go organik, mulai go organik tanpa target kapan tak pakai kimia non organik.

Melarang penggunaan pestisida kimia berarti menghidupi hama, berarti membunuh petani. Maka gerakan go organik adalah menghidupkan produk-produk organik tanpa membunuh produk-produk kimia. Produk organik begitu dicinta tapi tak dimiliki/ digunakan, produk kimia begitu dibenci tapi sangat dirindui.

Racun-racun kimia itu disuka karena bisa membunuh secara instan, tak perlu menunggu sehari dua hari. Mana sabar petani melihat hama tak mati-mati setelah disemprot racun hama.  Urusan petani tak cuma ngurusi hama. Hama tak mati maka akan disemprot lagi pakai racun yang bikin mati, racun kimia.

Jadilah sayuran dan hasil panenan kita tak aman dikonsumsi. Pemerintah bukannya tak tahu, tapi tak punya solusi. Petani sendiri sudah pusing dengan urusan tanam tanaman dan tak ingin rugi.

Jadilah ini merupakan peluang bagi petani dan pedagang untuk melaunching produk berlabel bebas racun kimia. Beri saja harga berlipat karena biaya perawatan juga tinggi. Orang-orang orientasi sehat pasti mau beli karena makan racun bikin ngeri.

Dan jika racun kimia lebih berbahaya daripada racun organik, zat pemacu tumbuh kimia diduga tak kalah berbahaya daripada racun kimia.

Minggu, 18 Agustus 2013

PETANI VERSUS PETERNAK

Ya, mengapa tak sekalian saja, bertani juga beternak. Atau tak perlu disuruh lagi? Ya, karena setiap petani bermimpi punya hewan ternak. Rasanya belum lengkap jika hanya punya tanaman, tapi tak punya hewan peliharaan. Mau sapi, mau kambing, mau ikan, mau ayam, bebek, semua petani suka. Sebab beternak selain sebagai hiburan juga berfungsi sebagai tabungan, kalau tidak malah mata pencaharian.

Apalagi bagi sebagian jenis, ternak bisa bersimbiosis dengan tanaman budidaya petani. Limbah ternaknya dikomposkan, limbah pertaniannya dijadikan pakan. Tanpa pakan limbah saja bertani dan beternak sudah untung. Dengan membeli limbah sebagai pakan, beternak tambah untung. Apalagi limbah-limbah tidak beli. Isinya untung dan untung.

Menjadi petani sekaligus peternak menaikkan nilai tawar petani. Jika ada program-program dari pemerintah, tak perlu bingung dibagi antara petani dan peternak. Orangnya sama sehingga bagiannya lebih besar. Dinas terkait juga lebih mudah mengadakan pembinaan. Ekosistem juga berjalan.

Jika sebuah sistem sudah berjalan, maka input yang dibutuhkan sangat minim. Minimnya input diartikan sebuah penghematan. Penghematan ini akan menambah keuntungan, yang akan dapat dijadikan tambahan modal untuk memperbesar usaha.

Sistem yang berjalan juga meminimalkan waktu. Sisa waktu yang ada bisa digunakan untuk mengurus perbesaran usaha karena penghematannya tadi. Jadilah petani sekaligus menjadi peternak adalah sebuah jurus jitu untuk meningkatkan kesejahteraan bangsa melalui komponennya.


PETANI VERSUS PEDAGANG

Tak tahulah pedagang itu musuhnya petani ataukah temannya. Sering petani mengeluhkan tingkah pedagang. Mau jual hasil panen ribet banget berurusan dengan pedagang. Mau beli pupuk mulsa juga ribet berurusan dengan pedagang. Tak tahulah apakah pedagang itu jago ribet, atau petani sudah capek mikirin lahan dan tanaman.

Stigma bahwa pedagang banyak yang nakal mungkin mendogma sebagian petani. Ataukah pedagang semua nakal? Memang ada pedagang yang tak jujur. Tapi tidak memberitahukan berapa harga kulak, tidak memberitahukan pada siapa dia ambil produk, bukan termasuk tanda ketidakjujuran.

Petani itu produsen, sebagaimana pabrik pupuk, pabrik mulsa, pabrik bibit, itu juga produsen. Tanpa pedagang, produsen itu harus menjadi pedagang, mendagangkan sendiri produknya. Dan tidak semua produsen sanggup menjadi pedagang atas produknya sendiri.

Pun demikian dengan petani. Sebenarnya petani bisa saja menjual hasil panennya langsung ke konsumen, tanpa lewat pedagang. Hal itu sudah dilakukan oleh sebagian petani dengan mengadakan pasar lelang. Tapi kadang tetap saja yang menang lelang juga pedagang besar. Pun banyak petani yang tak sanggup mendagangkan hasil panennya. Petani memilih untuk sibuk mengurusi bibit baru untuk penanaman berikutnya. Sudah ngurusi tanaman masih ngurusi hasil panen. Capek pikiran.

Jadilah pedagang itu mitranya petani. Jika tak dibutuhkan pedagang akan mundur sendiri. Jika dibutuhkan pedagang akan muncul sendiri. Tapi jika masih minat akan keuntungan jadi pedagang, bertani sambil berdagang, mengapa tidak? 


JENIS-JENIS TANAH

Mau belajar ilmu tanah? Ya paling bagus kuliah di jurusan ilmu tanah. Enam tahun selesai, lalu kita pintar dalam urusan berjenis-jenis tanah. Disana tanah dikelompok-kelompokkan, ada berjenis-jenis, dipelajari sifat-sifatnya, dan dipelajari cara mengantisipasinya. Tapi kita kan belum belajar cara budidaya tanaman, kuliah dulu di jurusan budidaya?

Belajar ilmu tanah bagi petani sebetulnya sangat sederhana. Sangat sederhana karena pertanyaannya juga sangat sederhana : tanahnya cocok apa tidak, lalu perlakuannya bagaimana. Maka jika ada petani bertanya : "apa di daerahku cocok untuk ditanami tebu? ketela? jagung? bawang merah?" Jawabannya sederhana : lihat tanaman yang dimaksud di daerah itu, kalau ada petani lain yang tanamannya bagus, berarti cocok.

Dari luasnya lahan tanah kita, paling-paling yang kita temui adalah tanah yang liat, tanah yang berpasir (porous), dan tanah berkapur. Masih jarang petani yang berani ambil resiko bertanam di tanah gambut ataupun tanah padas. Dan permasalahan tanah liat berkebalikan dengan tanah porous, beda lagi tanah berkapur.

Jika tanah liat pupuk yang diberikan sulit diserap akar, jika tanah porous pupuk cepat hilang, jika tanah berkapur lapisan olah tanah yang tipis, kadar air sedikit. Lalu bagaimana solusi-solusinya?

Ternyata dari berbagai macam jenis dan masalah tanah tadi bisa disolusi oleh satu langkah : kompos.


SISTEM IJON

Sistem ijon, perlu diberantas. Itu kalau pada tanaman padi.

Pada tanaman padi, orang yang menjual lahannya dengan sistem ijon adalah orang yang terdesak kebutuhan/ keuangan. Mereka sudah sangat membutuhkan uang padahal tanaman padinya belum panen. Jadilah tanamannya dijual kondisi apa adanya, karena masih hijau disebut sistem ijon. Sistem ijon ini sangat merugikan petani, berkenaan dengan rendahnya uang yang diterima petani yang menjual dengan sistem ijon, minimal dibandingkan jika dijual saat panen ataupun dibanding total biaya penanaman dan pemeliharaan.

Tapi ada sistem ijon yang justru menguntungkan petani, sering terjadi pada tanaman ketela pohon atau tebu bahkan cabai. Petani ketela tebu dan cabai sering menawarkan lahan bertanaman yang belum panen, bahkan masih muda. Mereka bukan tipe petani yang kekurangan uang, justru mereka mendulang uang dengan penjualan sistem ijon ini. Banyak orang rela menebus lahan yang ditawarkan dengan sistem ijon ini dengan harga yang tinggi karena memang begitu sulitnya mendapatkan, menanam, dan merawat lahan tebu ketela maupun cabai. Mereka membeli secara panik, berkenaan dengan banyaknya pesaing calon pembeli lain dan sedikitnya petani yang berbisnis sistem ijon.

Hal ini tak beda dengan perbesaran ikan, dimana petani ikan tidak menjual ikannya dalam kondisi panen tapi dalam kondisi setengah besar. Ada petani lele yang membeli bibit lele ukuran 5-7 cm lalu dibesarkan beberapa minggu saja, lalu ditawarkan saat ukurannya belasan cm, bukan saat sekilo isi tujuh. Tak tahu ini tidak disebut sistem ijon karena warna lelenya tidak hijau atau bagaimana, yang jelas lele yang dijual masih "hijau".

Jadi, jika sistem ijon pada sebagian petani sangat menguntungkan,  mengapa pada tanaman padi sangat merugikan. Untung dan rugi cuma berkaitan dengan harga jual. Karena menanam padi belum menjadi trend yang menarik, maka sistem ijon jatuh harganya. Tak tahu nanti jika sistem tanam padi sudah sangat intensif dimana per haktar bisa panen diatas 10 ton, saat itu mungkin orang berebut untuk ngijon dan rela membayarnya dengan harga tinggi.




OVER DOSIS

Apa-apa kalau over itu tidak baik. Ya, bahasa kerennya adalah : terlalu. Bahkan terlalu baik saja tidak baik. Terlalu banyak berdoa, terlalu banyak menolong, terlalu banyak menyumbang, terlalu banyak bekerja dan sebagainya, yang tidak saja mengisyaratkan kelebihannya akan menyebabkan gangguan, tapi juga mengisyaratkan adanya kekurangan atas ketidaksetimbangan pada hal lain.

Terlalu banyak berdoa mungkin kurang berusaha, terlalu banyak menolong mungkin tidak memperhatikan habisnya waktu tenaga dan pikiran bagi diri sendiri, terlalu banyak menyumbang mungkin membuat kas kita tidak sehat, terlalu banyak bekerja mungkin membuat kita kurang bersosial dan lain-lain.

Semua ada takarannya, ada dosisnya. Tapi tak hanya kelebihan takaran yang kurang baik, tapi kekurangan dosis juga kurang baik. Jadilah ada dosis yang tepat, dimana kekurangan maupun kelebihan dari dosis itu menyebabkan berkurangnya efektif dan efisiennya.

Banyak orang bilang lebih baik kurang dosis daripada lebih dosis, yang mungkin saja berkaitan dengan terbuangnya biaya-biaya yang memberikan hasil yang tak berbeda. Maksudnya, jika hasilnya sama-sama x rupiah/ ton, maka kurang dosis akan memberikan kehematan biaya dan bahan, dimana pada overdosis terdapat overbiaya dan overbahan.

Tapi pada produk-produk organik, over dosis yang tidak ekstrim jarang memberikan efek negatif pada hasil panen, yang ada justru more for more, kenaikan biaya terkompensasi kenaikan hasil.




Jumat, 16 Agustus 2013

JUAL KEMANA

Sebenarnya bagi petani maupun peternak, pertanyaan jual kemana itu hampir tak pernah muncul. Hal itu disebabkan para petani dan peternak biasanya sudah tahu kemana dan bagaimana hasil panen mereka terjual. Ada yang tak perlu repot-repot karena pedagang sudah bersliweran memburu hasil panen, ada juga yang harus datang ke pasar lelang atau penampung.

Jadilah pertanyaan petani peternak bukanlah jual kemana tapi harga berapa. Sebab sudah pastilah bukan pembelinya yang tak menentu, tapi harganya. Pembelinya pasti itu-itu juga. Bakal sulit mencari pembeli baru, yang dulu tak pernah membutuhkan hasil panen petani peternak, lalu sekarang membutuhkan. Bahkan pasar dagangnya juga disitu-situ saja.

Prediksi harga sering tak tepat karena banyak faktor. Sering yang harusnya harga tinggi malah harganya jatuh, juga sebaliknya. Belum lagi prediksi panen juga sering berantakan. Hal ini berkaitan dengan timing saat tanam atau memulai tebar bibit. Juga bisa karena anomali iklim.

Tapi tak tentunya harga tersebut sering hanya berlaku di suatu daerah. Pada saat yang sama, bisa saja di suatu daerah harganya sedang jatuh, tapi di daerah atau negara lain harga sedang bagus. Kalau saja produk kita bisa dipasarkan kesana tentunya akan mendapatkan harga yang bagus. Tapi kendalanya sering hasil panen kita tak bertahan lama kesegarannya.

Dan pupuk dan pestisida organik bisa memperlama kesegaran hasil panen sehingga memungkinkan untuk dijual ke daerah dengan jangkauan yang lebih jauh demi mendapatkan harga yang lebih baik.

PAHLAWAN TANPA TANDA JASA

Siapa sebenarnya?

Apakah guru dan dosen? Jasanya tak terkira. Mungkin saja kita lupa memberikan tanda jasanya. Sedangkan tanda jasa paling afdol adalah berupa uang/ gaji. Sedangkan guru/ dosen yang berstatus pegawai negeri sekarang tak lagi kekurangan dalam masalah gaji. Bahkan gajinya jauh diatas upah minimal. Jadilah guru swasta dan yang masih honorerlah yang berstatus pahlawan tanpa tanda jasa.

Atau mungkin saja polisi. Jasanya bertaruh mati, mungkin saja polis asuransinya tinggi. Jika guru berhadapan dengan murid, polisi berhadapan dengan penjahat. Ada murid nakal sedikit saja guru sudah pusing, mana ada penjahat yang tidak nakal. Sedangkan yang namanya pahlawan kan mesti melawan musuh, melawan penjahat. Jadi, polisikah yang berstatus pahlawan tanpa tanda jasa?

Atau mungkin saja para pemimpin? Mulai dari ketua RT, kepada desa, hingga presiden. Merekalah yang mengatur sistem kenegaraan kita, yang tanpanya kita tak akan hidup tenang. Mereka mengatur semuanya, dari urusan tempat tinggal sampai urusan ketenagakerjaan, dari urusan sistem pendidikan sampai kesejahteraan sosial. Jadi mungkinkah para pemimpin kita adalah pahlawan tanpa tanda jasa?

Ataukah, petani?

Selasa, 13 Agustus 2013

GO KIMIA

Slogan agribisnis kita adalah Go Organik, atau Go Green. Go dalam hal ini menuju, atau marilah, bukan pergilah. Apa sebabnya?

Mungkin kita sudah mentok dalam mengaplikasikan produk-produk kimia dalam pertanian kita. Mulai dari pupuk, hormon tanaman, perekat, pestisida, juga herbisida. Ibaratnya kita sudah tak bisa lebih kimia lagi. Karena dosis-dosis sudah tak hanya lebih banyak dari dosis awal, tapi sudah berlipat. Diduga penambahan dosis lagi tak akan menambah kesuksesan tujuan aplikasinya. Jadi kita sudah di dunia kimia, tak mungkin Go Kimia lagi, karena terbukti dunia kimia tak menjadi solusi.

Jadilah kita berslogan Go Organik. Lha memang kita mau kemana lagi, sudah tak ada jalan lagi. Dunia organik yang sebetulnya sudah pernah kita miliki akan kita kunjungi lagi. Kompos-kompos mulai mendapatkan hati. Sudah berkurang pembahasan dan ceramah-ceramah yang mengulas kekurangan dan kelemahan kompos. Gantian sekarang pupuk-pupuk dan produk-produk kimia dikupas kelemahannya. Pabrik Urea kita yang konon nomor satu di duniapun dipandang sebelah mata.

Bagi petani yang menggantungkan nasib dapurnya pada hasil panen, Go Kimia atau Go Organik sudah nggak sempat mikir lagi. Ada masalah pinginnya cepat teratasi. Hama yang menyerang harus mati, kalau tidak bisa-bisa dia yang mati. Mau organik mau kimia boleh saja, yang penting adalah bukti dan hasil nyatanya.

Jadilah produk-produk organik harus memiliki kualitas yang tak hanya tinggi, tapi harus bisa memberi bukti. Bukan cuma suksesnya 5 atau 10 tahun lagi, sebab pembasmian hama akan dilakukan hari ini.

Jadi Go Organik itu untuk siapa? Bakul obat, kan?


Senin, 12 Agustus 2013

PEMBAKARAN JERAMI

Membakar jerami itu ibarat membakar gabah. Bukan saja karena banyaknya jerami per luasan adalah sebanyak gabah, tapi jerami jika dikembalikan ke tanah dengan dikomposkan atau dibenamkan ke lahan akan menghasilkan gabah tambahan. Gabah tambahan ini mungkin tak pernah ada jika jerami tersebut dibakar. Jadilah jerami identik dengan gabah.

Membakar jerami itu juga ibarat membakar daging. Ternak terutama sapi punya kemampuan mencerna jerami, yang akhirnya bisa menambah bobot daging. Kalau pada manusia, serat adalah makanan sehat, melancarkan pembuangan dan menyerap kolesterol, tapi hampir tak bisa tercerna menjadi daging atau tenaga. Untuk dietlah. Tapi bagi sapi, serat bisa tercerna menjadi daging. Jadilah jerami identik dengan daging.

Membakar jerami itu juga ibarat membakar sapi. Bukan hanya menjadi daging, bahkan bagi sapi indukan, yang makannya cukup jerami dan bekatul, dalam waktu 9 bulan akan menghasilkan anak. Ya, karena prinsip sapi indukan adalah asal hidup, sehingga jerami sudah cukup untuk memenuhi prinsip itu. Jadilah jerami identik dengan sapi.

Membakar jerami adalah membakar uang. Ya, karena jerami bisa dijadikan uang dengan dan untuk berbagai keperluan.


Kamis, 08 Agustus 2013

PANEN APA

Ibarat pegawai, panen itu terima gaji. Menanam padi yang panennya 3 bulan sekali berarti terima gaji 3 bulan sekali. Menanam tebu atau ketela yang panennya setahun sekali berarti terima gaji setahun sekali. Menanam sawit yang panennya sebulan sekali berarti terima gaji sebulan sekali. Menanam cabe yang panennya 5 hari sekali berarti ya terima gaji 5 hari sekali.

Perbedaannya, kalau gaji cenderung tetap, kalau panen cenderung tidak tetap. Perusahaan tempat bekerja mengalami rugi saja pegawai tetap terima gaji. Perusahaan tempat bekerja kena masalah saja pegawai tetap terima gaji. Perusahaan hutangnya membengkak pegawai tetap terima gaji. Mungkin itu sebabnya di Indonesia menjadi pegawai adalah sebuah prioritas.

Sedangkan panen? Pupuk sudah bagus eh kena hama. Hama sudah diurus eh kena banjir. Banjir sudah teratasi eh harga jatuh. Harga sedang bagus eh sama pembeli nggak dibayar. Bejibun hal bisa menjadi sandungan kesuksesan panen. Maka seharusnya kaum petani dan pebisnis mendapatkan perhatian ekstra, bukan dibiarkan saja bahkan cenderung dipandang sebelah mata.

Maka petani dan pebisnis harus punya strategi kompensasi. Karena panen belum tentu sukses, sekalinya sukses harus bisa menutup semua kekurangan dan pengeluaran. Gunakan pupuk terbaik, atasi hama dengan baik, urus pengairan dan pengeringan dengan baik, cermati penjualan dengan seksama.

Maka petani sukses pun tak kalah dengan karyawan sukses.