Siapa yang tidak pusing dengan naik turunnya harga komoditas pertanian. Harga daging, harga cabai, harga telur, harga singkong, harga gula, harga bawang dan hampir semua harga komoditas pertanian mengalami fluktuasi luar biasa. Yang tidak, mungkin cuma beras, seperti pada harga pertamax, yang tidak cuma premium dan solar.
Entah siapa yang diuntungkan dengan adanya fluktuasi harga yang sepertinya tak menentu itu. Jangan-jangan perlu dilihat adakah pihak yang untung karena bisa dipakai sebagai awal kecurigaan kita bermuara, walaupun tak mesti pihak yang beruntung berarti pihak penyebab fluktuasinya. Itu juga kalau kita yakin fluktuasi harga bisa direkayasa. Sebab kan tak mungkin kita curiga pada pihak yang rugi karenanya. Ataukah kita menyalahkan pihak yang membiarkan terjadinya fluktuasi harga padahal mampu mengatasinya?
Pihak yang paling mampu mengatasi fluktuasi harga siapa lagi kalau bukan negara, dalam hal ini pemerintah. Permasalahannya, kondisi pemerintah setiap negara berbeda-beda. Beracam kekuatan, kemampuan dan prioritas kerja. Jadilah bila pemerintah tidak mengendalikannya, kita anggap saja itu masalah kita bersama. Sudah mendinglah beras harganya dikendalikan oleh pemerintah. Belum tahu nantinya bagaimana untuk komoditas yang lainnya.
Faktor harga adalah faktor eksternal yang tak kalah besar daripada faktor musim pada dunia pertanian. Menyiasati faktor eksternal menjadi pilihan jika kita tak mampu mengendalikannya. Siasat paling mudah adalah pemakaian produk-produk ramah lingkungan sehingga ada harapan umur hasil panen komoditi lebih lama, sehingga lebih mungkin disimpan dan tunda jual, seperti pada kasus bawang merah.
Tetapi yang terutama adalah usaha peningkatan hasil panen secara serius, karena jika hasil panen bisa meningkat misalnya 30%, mungkin akan impas jika terjadi penurunan harga juga sebesar 30% saat panen. Caranya, gunakan pupuk berimbang, NPK diimbangi pupuk unsur mikro, dalam hal ini pupuk Agri.