Banyak orang menganggap usaha di sektor pertanian itu kurang prospektif, berkenaan dengan makin menyusutnya lahan pertanian dari tahun ke tahun. Menyusutnya lahan pertanian ini karena terkonversi menjadi lahan pemukiman, desa menjadi kota. Hal ini disebabkan adanya peningkatan jumlah penduduk dari tahun ke tahun. Kebutuhan akan papan membuat sawah jadi rumah.
Bila lahannya tetap saja usaha dianggap stagnan. Jika luasan lahannya bertambah saja diperlukan usaha ekstra karena bersaing dengan orang lain, ini lahannya semakin sedikit. Bukankah tidak prospektif namanya, alias masa depan suram. Pikiran itu sering berkecamuk di benak pebisnis agro, apalagi pada pebisnis non agro.
Melihat pasar bisnis non agro yang semakin besar, pada properti kebutuhan rumah semakin besar, pada telekomunikasi kebutuhan berkomunikasi tak terbendung, pada transportasi kebutuhan bepergian juga semakin besar, sangat berkebalikan dengan kondisi usaha agro di benak banyak orang.
Padahal banyaknya orang juga butuh makan lebih banyak. Bukankah kebutuhan akan pangan lebih mendesak daripada sandang juga papan? Ataukah nantinya akan muncul bencana kelaparan karena permintaan pangan tak terimbangi ketersediaannya? Ataukah nanti akan muncul gejala pertumbuhan penduduk yang negatif sehingga rumah akan terkonversi menjadi sawah? Ataukah gerakan keluarga berencana harus di bawah kendali kementrian pertanian?
Meningkatnya permintaan berkenaan dengan meningkatnya jumlah penduduk yang disertai penurunan ketersediaan penyediaan berkenaan dengan berkurangnya lahan sawah membuat strategi intensivikasi harus dibudayakan sejak dini. Penggunaan bibit dan pupuk secara benar harus menjadi garis besar haluan petani. Pengolahan lahan dan pengaturan jarak dan waktu tanam harus dipelajari sejak mula. Teknologi pengawetan dan penyimpanan juga harus makin berkembang.
Makanya jangan tanya mengapa perbandingan harga beras dan emas maupun BBM makin lama makin besar. Hal ini disebabkan karena makin meningkatnya jumlah pembeli, berkurangnya jumlah ketersediaan. Jadi, jika makin lama kenaikan harga beras tak tertandingi oleh harga emas, BBM bahkan properti, masihkah kita bilang berbisnis agro tidak prospektif?