Bertani itu seperti membuat roti/ kue. Hasil pembuatan kue tergantung pada banyak hal. Dari bahan, alat sampai kelihaian pembuatnya. Entahlah mana yang lebih menguntungkan.
Kayak orang beli martabak, ada yang biasa, super, juga istimewa. Bedanya ada pada jumlah telurnya. Diduga penambahan telur membuat rasanya semakin enak. Membuat kue juga seperti itu. Pemilihan jenis bahan sangat mempengaruhi kualitas. Apalagi jika ada bahan yang kurang. Bertani pupuknya tidak berkualitas? Jangan tanya hasilnya. Pupuknya bagus tapi jumlahnya kurang? Atau ada jenis pupuk yang tidak ditambahkan?
Pembuatan adonan, pencetakan, dan pengovenan layaknya tahapan kegiatan bertani saja. Tidak melakukannya dengan baik berpotensi tak hanya mengurangi untung tapi bisa menjadikannya rugi. Pengolahan lahan, perawatan dan pemanenan memang harus menggunakan cara yang diketahui berhasil baik. Maka petani harus sering belajar dengan bergabung pada kelompok tani.
Penggunaan alat dan mekanisasi tani juga sangat berpengaruh. Ibarat perusahaan roti tradisional dengan perusahaan roti modern. Petani juga ada yang tradisional dan ada yang modern. Tapi bukan berarti yang tradisional harus kalah dibanding dengan yang modern, karena yang penting adalah pengetahuan dan pelaksanaan alat bahan dan tata cara laksana.
Sebab untuk menghasilkan gabah diatas 10 ton per hektar tak harus memakai peralatan modern dan canggih. Untuk bisa panen ketela 100 ton juga tak harus menjadi petani modern. Cukup ikuti saja petunjuk petani dan konsultan tani yang sudah terbukti sukses, cukup ingat saja bahwa bertani itu seperti membuat roti