Kamis, 01 Agustus 2013

GANTINYA KOMPOS

Bayangkan jika ketika kita mau mengolah lahan, tiba-tiba ada orang yang mau menghadiahi kompos kepada kita. Wah, senangnya minta ampun. Mungkin kita sendiri tak menganggarkan kompos dalam rencana budidaya tanaman kita. Mengapa kita tak berencana memberikan kompos, mungkin ribet, mahal. Mengapa kita senang sekali, ya mendapatkan  hadiah tak terkira.

Bagi sebagian besar petani, kompos mungkin sekarang sudah menjadi barang mewah. Apalagi bila lahannya berstatus sewa. Mungkin lebih baik menambah luasan lahan daripada menambahkan kompos pada lahan-lahannya. Bila sudah belipun harus memikirkan cara aplikasinya. Karung ditaruh di setiap sekian meter. Lalu belum lagi cara mencampur ke tanahnya, apakah langsung di campur semua ke bedengan, cuma ditaruh di titik tanam, atau dicampur tanah di titik tanam.

Belum lagi belinya mau ke mana, mau beli kompos yang bagaimana, apakah berbahan kotoran sapi, kotoran lembu, ayam, atau limbah pabrik, atau jerami, dan pokok banyak banget yang harus dipilih. Semua itu berkenaan dengan khasiat dan juga biaya.

Belum lagi kalau komposnya ternyata masih mentah, atau penjualnya mengaku bahwa komposnya sudah matang tapi bentuk fisiknya meragukan, bagaimana kemarin penjual/ pembuat komposnya mengomposkannya, dan sebagainya dan sebagainya.

Sebenarnya kompos bisa diganti, nggak sih? Beberapa petani mengganti komposnya dengan cocopeat, ada juga dengan limbah sawit, ada juga dengan jerami padi dan lain-lain. Wah berarti itu semua bisa menggantikan kompos? Jelas bukan, karena cocopeat, limbah sawit, limbah pertanian, maupun limbah pabrik itu cuma jenis-jenis kompos.

Kompos itu tak terganti.