Cenderung lengang dan sepinya kampus sektor pertanian mungkin adalah sebuah pertanda, bahwa kecilnya perhatian dari pengurus negara pada sektor agro menjadi trend negatif yang diamini anak-anak sekolah. Berkarir dan bermatapencaharian disektor pertanian akan diaggap kalah keren jika dibanding di sektor lain seperti transportasi, telekomunikasi, atau mungkin properti.
Jika dibiarkan, lama-lama tenaga ahli dan trampil kita akan habis, dan akan semakin kecil kemungkinan negara kita berswasembada dan berkedaulatan pangan dan pertanian. Mungkin negara kita cuma menjadi kepanjangan tangan bagi negara lain untuk menyuapi rakyatnya sendiri.
Dari sini pengurus negara baiknya bertindak. Sebagai mana keluarga berencana, transmigrasi, cinta produk dalam negeri yang selalu didengung-dengungkan, maka program cinta dunia pertanian harus tak kalah gertaknya. Program dan fokus pengurus negara baiknya segera dialihkan kepada pencetakan dan pengakuan wirausaha sektor agrobisnis dengan segala macam cara.
Jika pamor bisa diangkat, maka derajat kesukaan siswa untuk belajar di sektor pertanian akan meningkat. Jika tenaga ahli pertanian kita lebih unggul dari negara lain, pasti tiba saatnya di mana negara lain akan menjadi kepanjangan tangan kita dalam menjual produk-produk pertanian kita.