Menjadi negara eksportir beras mungkin bukan suatu target bagi negara Indonesia. Target utama dalam hal perberasan negara Indonesia adalah swasembada. Entah bagaimana bentuk swasembada yang dimaksud, karena dengan masih mengimpor sekian ribu ton beras ternyata kita tetap menyandang status swasembada beras.
Di banyak tempat sering terdengar klaim panen padi yang mencapai 10 ton per hektar bahkan lebih. Apakah mereka berbohong ataukah kita yang tidak tanggap. Dengan rata-rata panen padi nasional yang cuma 4,9 ton per hektar, jangankan panen padi yang 10 ton, bisa rata-rata panen 6 ton saja kita sudah bisa ekspor beras.
Bagaimana tidak ekspor, sisa panen yang sedemikian "sedikit" itu tidak mampu disimpan di Indonesia. Bulog sebagai penyangga cuma mengamankan 4-5% dari kebutuhan nasional. Sedangkan panen rata-rata 6 ton saja sudah naik lebih dari 20%. Mau disimpan di mana beras segitu banyak.
Padahal banyaknya beras itu cuma hasil dari penaikan panen yang "sedikit", cuma panen 6 ton per hektar. Jauh di bawah klaim-klaim di banyak tempat yang mampu manghasilkan panen 10 ton bahkan lebih.
Ataukah perlu dibuat lomba dan sayembara penanaman padi?