Selasa, 30 Juli 2013

TRAKTOR VERSUS SAPI

Pengolahan lahan merupakan hal yang mutlak dilakukan oleh petani dan pekebun, karena tanpanya penurunan hasil panen terlihat signifikan. Tanah-tanah pertanian dalam hitungan bulan saja sudah memadat, sehingga menyulitkan akar untuk berkembang. Pemadatan itu bukan saja karena terinjak pekerja, tapi karena gravitasi dan curahan hujan.

Pengolahan lahan bertujuan penggemburan dan pembuatan bedengan biasa dilakukan secara mekanik. Beragam cara biasa dilakukan seperti mencangkul, membajak, dan mentraktornya. Awal-awal dulu mungkin mencangkul karena lahannya kecil, membajak karena lahannya berluasan menengah, mentraktor karena lahannya sangat luas.

Tetapi belakangan terjadi pergeseran gaya olah lahan, tak peduli lahan kecil atau besar semuanya ditraktor, kecil memakai traktor tangan, lahan besar memakai traktor besar. Cangkul dan bajak tersingkirkan, terutama pembajakan, entah karena populasi sapi makin sedikit, atau gara-gara traktor yang banyak dipilih, beternak sapi menjadi kurang manfaat.

Bicara praktis memang mempunyai ataupun menyewa traktor lebih praktis, tapi mau praktis lagi ya tak usah bertani, kan? Secara jangka pendek memang menyenangkan pakai/ punya traktor, tetapi kan sudah saatnya kita melihat jangka panjangnya.

Memiliki sebuah traktor tangan saja setara dengan 3 atau 5 ekor sapi, sapi cukup makan limbah pertaniannya, bila dijadikan indukan dalam setahun jumlahnya sudah dua kali lipat. Dalam 10 tahun jumlahnya sudah ribuan ekor, bisa untuk beli ratusan traktor. Sedangkan traktor kita saat itu sudah jadi barang antik.

Jadi, mau traktorisasi atau sapinisasi?