Secara simple, pilihan berbisnis bisa dibagi menjadi dua macam, menjadi produsen atau menjadi agen. Memang ada bisnis yang langsung melakukan dua-duanya, misalnya warung/ rumah makan, salon, percetakan dan sebagainya. Bisnis ini kita golongkan bisnis dua sisi saja, ya jualan, ya produksi.
Banyak orang berunderestimate terhadap jenis bisnis agen. Mereka lebih menyukai bisnis yang bersifat produksi/ pabrikasi. Mungkin istilah pabrik atau punya pabrik begitu memukau. Padahal yang penting sebenarnya bukan statusnya tapi hasilnya.
Mana lebih enak, menjadi petani padi atau menjadi bakul beras. Mana lebih menyenangkan menjadi petani cabai atau menjadi bakul pupuk (eh). Bahkan Astra yang hebat itu cuma agen. Hebatnya Astra dia menjadi agen dari banyak produsen, bahkan yang di negara asalnya menjadi musuh bebuyutan. Kalau kita menjadi Toyota atau Honda atau Isuzu atau Daihatsu atau BMW, kita mungkin sudah tak mau diageni secara borongan oleh Astra. Padahal mereka semua bukan perusahaan kecil dan pemula, bahkan jauh lebih besar daripada Astra.
Menjadi agen adalah awal yang baik bagi pilihan sebuah bisnis. Karena kalau langsung menjadi produsen tetap harus menghitung pasar. Sedangkan pasar yang punya adalah agen. Entah penting mana pasar dan produk. Entah rumit mana menguasai pasar dan produk.
Menjadi produsen harus merangkul agen, menjadi agen harus menggandeng produsen. Bahkan sistem franchise yang terkenal itu cuma sistem agen. Tidak berbisnis, pilhannya cuma jadi pegawai atau investor.
Jadi, apakah berbisnis pilihannya? Bisnis apa?