Jumat, 02 Agustus 2013

TABUNGAN ORANG DESA

Gemar dan kebiasaan menabung santer digembar-gemborkan. Ayo nabung biar untung. Orang tua juga tak henti-henti menyelipkan nasihat yang satu itu, jangan lupa menabung. Padahal kalau menabung, siapa yang untung?

Penabung diberi keuntungan berupa bunga sekian persen dari nilai tabungannya. Tapi bank tempat kita menabung mendapatkan keuntungan yang tak kalah besar. Bagaimana tidak. Bank-bank mampu menggaji manager dengan gaji yang demikian besar. Mampu membangun gedung-gedung baru atas nama pembukaan cabang. Jangan-jangan bekerja sebagai pegawai bank lebih keren daripada menabung di bank.

Menabung di bank dilakukan jika tak ada pilihan lain. Uang dibagi-bagi sesuai keperluan dan peruntukannya. Menabung sendiri juga tidak harus di bank. Entahlah, apakah ada orang bank yang marah karena tulisan ini.

Khusus bagi orang desa, menabung dalam bentuk ternak dan peliharaan jauh lebih baik. Bisa unggas, bisa kolam ikan, bisa sapi/ kambing. Dari sekian jenis peliharaan, yang untungnya paling sedikit adalah sapi. Tapi bila dibanding bunga bank sapi jelas jauh lebih unggul.

Seekor sapi indukan, dalam setahun hanya memerlukan pakan maksimal 1,5 juta rupiah saja. Hal itu bisa terjadi karena prinsip sapi indukan adalah asal hidup. Jadilah makanannya cukup limbah-limbah pertanian semacam jerami padi dan lain-lain. Padahal selama setahun sapi itu beranak satu. Harga anaknya dalam setahun sudah sama dengan harga induknya, kalau harga sekarang ya 7-8 juta. Jika dikurangi biaya pakan selama setahun, ketemunya adalah keuntungan sekitar 65%, jauh lebih besar daripada bunga bank yang cuma 6-6,5% per tahun.